kisah Fabregas dan Lampard
Juni lalu, Chelsea memutuskan
untuk membuat sebagian besar fansnya sedih bercampur kecewa. Chelsea
resmi tak memperpanjang kontrak Frank Lampard. Pemain yang sudah menjadi
legenda klub asal London tersebut kini berstatus sebagaifree agent
alias tak terikat kontrak dengan klub manapun.
Sampai saat ini, kabar ke mana Lampard akan berlabuh pun kian
berhembus pasca keputusan tersebut. Salah satunya New York City FC. Ia
dikabarkan akan menyusul David Villa untuk bergabung dengan klub asal
kota New York, Amerika Serikat tersebut.
Beberapa hari setelah melepas Lampard, kekecewaan fans Chelsea tampak
sedikit terobati, ketika pihak klub mengumumkan berhasil mendapatkan
tanda tangan Cesc Fabregas, sekaligus membuat Arsenal sakit hati dengan
deal tersebut.
Fabregas, yang kala itu tengah berada di Brasil karena membela
Spanyol di Piala Dunia 2014, mengatakan bahwa Chelsea dianggap bisa
memenuhi ambisi sepak bolanya. Ia juga mengatakan ada misi yang belum
diselesaikan di Liga Primer. “Saya mempertimbangkan semua tawaran secara
mendalam, hingga pada akhirnya menyimpulkan bahwa Chelsea adalah
pilihan terbaik saya,” kata Fabregas seperti dilansir BBC.
“Chelsea memiliki pemain-pemain dan manajer yang mengagumkan. Saya
senang bergabung dengan mereka,” lanjut pemain berusia 27 tahun ini.
Dengan digaetnya pemain asal Barca tersebut, banyak ekspektasi yang
ditaruh di pundak Fabregas. Bahkan ketika fans Chelsea pertama kali
melihat nomor punggung yang bakal ia gunakan musim depan, pasti mereka
ingat dengan sosok David Luiz, pemilik nomor 4 sebelumnya. Serta bukan
hanya itu, banyak fans juga yang menggadang-gadang Fabregas bakal
menggantikan peran Lampard di klub berjulukThe Blues tersebut.
Di antara kita, khususnya fans Chelsea, pasti banyak yang
menginginkan melihat mereka bermain bersama dalam satu panji klub.
Bagaimana tidak ingin melihat 2 pemain dengan kualitas yang tak perlu
dipertanyakaan tersebut bisa bekerja sama di lini tengah Chelsea.
Namun, penulis menilai alasan lain Lampard diputus kontraknya adalah
karena keinginan Chelsea mendapatkan tanda tangan Fabregas. Sepertinya
mereka ingin ruang ganti tetap hangat. Sebelumnya, di setiap pertemuan
antara Lampard dan Fabregas selalu memiliki cerita tersendiri. Selalu
ada aroma permusuhan di antara keduanya.
Beberapa di antara kita pasti masih ingat dengan kejadian yang
terjadi di Piala Liga Inggris 2007. Saat itu Fabregas masih berseragam
Arsenal. Chelsea unggul dengan skor 2-1. Cerita bermula di menit 93 bek
Arsenal, Kolo Toure, bertabrakan dengan John Obi Mikel. Keduanya
terlibat pertikaian, Lampard dan Fabregas menjadi yang pertama di tempat
kejadian. Lampard datang mengkonfrontasi Toure, lalu ia dihampiri
Fabregas yang langsung menarik lehernya. Pertikaian berlanjut, wasit
Howard Webb mengusir Mikel, Adebayor serta Toure sebelum Chelsea
akhirnya angkat trofi dengan skor 2-1.
Cerita belum usai. Lima tahun kemudian, Fabregas dan Lampard kembali
bertemu dalam sebuah pertandingan panas. Berbeda dengan Lampard yang
tetap bermain untuk Chelsea, Fabregas sudah berganti seragam klub.
Fabregas bermain untuk Barcelona, klub masa kecilnya. Mereka berdua
mendapatkan kesempatan kembali untuk berduel dalam ajang semifinal leg
kedua Liga Champions Eropa 2011/2012, di Camp Nou.
Dalam pertandingan kedua pemain kerap kontak fisik. Aroma panas mulai
muncul ketika Lampard menekel gunting kaki Fabregas. Hingga pada suatu
ketika, terjadi suatu pertikaian. Pertikaian tersebut memang tak sepanas
kala mereka bersua di final Piala Liga, 5 tahun sebelumnya. Namun itu
menyiratkan adanya hubungan yang tak baik dari keduanya.
Sejak kejadian di Camp Nou itu, hingga saat ini kedua pemain belum
lagi bertemu dalam sebuah pertandingan. Baik ditingkat klub maupun tim
nasional. Jujur, saya cukup kaget ketika Chelsea mengkonfirmasi
keberhasilannya menggaet Fabregas. Meskipun sudah beredar isu dan gosip
sebelumnya, tapi bagi saya, itu punya nilai tersendiri yang bisa membuat
saya terkejut. Menurut saya, Fabregas bukanlah orang yang asing dengan
pendukung Chelsea. Maksudnya, ia tak asing sebagai lawan, bukan sebagai
kawan.
Bukan hanya soal tak harmonisnya hubungan dengan Lampard saja. Jika
kita kembali ke pertandingan semifinal leg kedua semifinal Liga
Champions Eropa 2011/2012, Fabregas berhasil membuat wasit Cuynet Cakir
menunjuk titik putih. Ditekel “lembut” oleh Didier Drogba, Fabregas
mereaksi tekel tersebut dengan gaya jatuh yang luar biasa. Saat itu,
gaya jatuh yang berlebihan memang sudah melekat dengan klub tersebut.
Untungnya penalti Messi gagal dikonversi menjadi gol, dan memuluskan
laju Chelsea ke final Liga Champions untuk kedua kalianya sepanjang
sejarah.
Tak berhenti di sana, Fabregas kembali “berurusan” dengan Chelsea.
Kali ini dengan manajernya, Jose Mourinho. Ia “memukul balik” Mourinho
setelah manajer asal Portugal itu mengatakan bahwa Manchester City akan
menghadapi Barcelona yang terburuk setelah bertahun-tahun di Liga
Champions. Namun, Barca menang pada leg pertama babak 16 besar Liga
Champions 2013/2014 dengan skor 2-0 di Stadion Etihad.
Dalam wawancara bersama ITV, Fabregas menggunakan kata “shut up” yang
disinyalir ditujukan untuk Mourinho. “Beberapa orang berbicara terlalu
banyak sebelum pertandingan dan sekarang mereka harus tutup mulut untuk
beberapa hari,” kata Fabregas.
“Kami memiliki hasil yang besar malam ini. Para penggemar memberikan
begitu banyak tekanan pada dan itulah apa yang membuat kemenangan ini
begitu istimewa. Kami memiliki titik untuk membuktikan, dan kami
melakukannya dengan sangat baik,” tambahnya saat itu.
Kini, semua sudah berubah. Mourinho pun sepertinya tak
mempermasalahkan komentar Fabregas di Februari lalu itu. Mourinho
mengaku menginginkan Fabregas. “Klub bekerja dengan sangat baik. Kami
tahu target dan pemain (yang kami inginkan) dan klub mengejar mereka dan
klub mereka pada tahap sangat awal,” kata Mourinho seperti dilansir Sky
Sports.
“Kami betul-betul mendapatkan apa yang kami butuhkan dan apa yang
kami inginkan. Ini adalah skuad yang sangat saya inginkan dan saya tak
sabar memulai musim baru,” tambahnya.
Tak ingin kalah dengan manajernya, kapten Chelsea, John Terry, juga
angkat bicara soal Fabregas. Terry menilai Cesc Fabregas cocok
menggantikan Frank Lampard di Stamford Bridge. Ia mengatakan Fabregas
memiliki apa yang dibutuhkan untuk menjadi jenderal lapangan tengah
Chelsea.
“Fabregas pembelian yang sangat baik. Dia sangat bagus dengan bola,
pemain box-to-box, dia mencetak banyak sekali gol dan juga agresif. Aku
pastinya ingat ketika ia masih membela Arsenal,” kata Terry dikutip dari
majalah klub.
Meski saat ini Fabregas dan Lampard tak bisa bersatu dalam sebuah
klub sebagai pemain. Siapa yang tahu kalau kemudian hari Lampard kembali
ke Stamford Bridge, walaupun hanya menjadi salah satu staf pelatih di
klub milik taipan asal Rusia, Roman Abramovich?
Fabregas sudah resmi berseragam Chelsea. Ia diyakini dapat memberi
warna dan semangat baru klub yang bermarkas di London Barat tersebut.
Fabregas mengatakan Chelsea merupakan pilihan terbaiknya saat ini.
Fabregas menilai gaya permainan Chelsea yang penuh ambisi cocok dengan
dirinya.
Setiap orang pasti memang mempunyai masa lalu. Tak terkecuali
Fabregas, baik maupun buruknya ia di masa lalu, harus diterima oleh
semua fans Chelsea. Sebab, Fabregas kini sudah menjadi bagian dari
Chelsea. Bersama punggawa-punggawa anyar seperti Diego Costa, Filipe
Luis dan wajah-wajah baru di tim besutan Mourinho, Fabregas juga
diharapkan bisa membantu Chelsea meraih banyak gelar di musim mendatang
setelah puasa gelar di musim lalu.
Penulis: Gerry Maulana Thiar (@gmthiar)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar